fashion pria

Selasa, 11 Oktober 2016

Semangat Menuntut Ilmu

“Alhamdulillah…. Ya Allah…Ya Rabby…. Ya Karim…”  teriak Kang Jaisy di depan laptop. Karena penasaran, aku yang berada satu ruangan dengannya bertanya, “Ono opo, Kang?”
Natijah udah keluar, Yan. Iso langsung cek di website Al-Azhar, alhamdulillah aku najah shofy tahun iki.
Alfu mabruk, Kang…” ucapku riang seraya menjabat tangannya.
Tak pikir sampean bakal rosib eneh. Lak rosib eneh, bakal dadi juniorku, no. Hehecandaku.
Yahrib bait! Nggolek mati tenan ki bocah? Mentang-mentang najah trus.” Umpatnya.
“Bercanda, Kang! Bercanda! Tak cek natijahku ndisek kalau gitu.”
Bittaufiq wan najah, Yan! Insya Allah kalau ente mah, dapet jayyid jiddan eneh.”
“Amin Ya Rab.” Aku pun langsung membuka  laptop dan meluncur menuju website Al-Azhar.
***
Kang Jaisy adalah seorang senior dua tahun di atasku. Karena rosib dua kali, sekarang kami sama-sama tingkat tiga di kuliah Tafsir. Dia adalah orang yang sangat rajin bekerja. Walaupun begitu, dia juga rajin belajar disaat senggang atau ada kesempatan kecil. Seperti saat pergi ke suatu tempat menggunakan bus atau angkot, dia pasti sambil membaca buku. Dan juga dia sering mencatat mufrodat baru atau ta’rif suatu pelajaran di atas lembaran-lembaran kecil yang bisa dia hafal sambil berjalan atau bekerja. Itu bisa dibilang rajin, kan?
Dia pun tidak pernah berkeluh kesah. Saat ditanya “kenapa,” dia akan menjawab, “Mengeluh itu tidak akan menyelesaikan masalah; membuat seseorang tidak semangat dan salah satu sikap seorang pecundang.”
Dia juga tidak pernah murung atau galau.  Mungkin karena sangat sibuk dan tidak ada waktu senggang baginya untuk bergalau ria. Aku jadi teringat perkataan Dr. Aidh Al Qarni dalam bukunya La-Tahzan, “Kebanyakan orang yang selalu gundah dan hidup dalam kecemasan adalah mereka yang terlalu banyak waktu senggangnya dan sedikit aktivitasnya.”
Kang Jaisy belajar di Universitas Al-Azhar dengan biaya sendiri. Tidak ada beasiswa ataupun kiriman uang dari keluarga. Hanya saja, saat akan berangkat ke Mesir, dia harus mengirim permintaan dana ke banyak orang kaya yang dikenalnya. Sebab, keluarga tak mampu membiayainya.
Katanya sebelum memutuskan untuk kuliah di Al-Azhar, dia bertanya ke senior tentang pekerjaan yang bisa dia lakukan di Mesir, dan setelah sampai, bukannya mencari info tentang perkuliahan atau talaqqi, tapi justru pekerjaan lah yang dia cari. Padahal, itu baru hari kedua dia sampai. Biasanya, orang yang belajar jauh-jauh ke Mesir akan langsung ke kampus atau melihat aktifitas talaqqi di masjid Al-Azhar. Aneh, kan, ya?
Ucapku dalam hati, sebenenya, ni orang jauh-jauh ke Mesir tu ingin jadi mahasiswa atau TKI sih?
Karena ketidakfokusannya dalam kuliah, dia harus merasakan pahitnya rosib untuk beberapa tahun. Ada banyak faktor yang membuatnya rosib, dan faktor terbesarnya adalah kerja.
Bekerja lima hari dalam seminggu di math’am Indonesia. Mulai dari jam sepuluh pagi sampai jam dua belas malam. Sedangkan perkuliahan dimulai dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore, dan perjalanan ke kampus memakan waktu sekitar satu jam. Dari sini kita tahu bahwa dia tidak punya waktu untuk kuliah.
Adapun gaji per harinya sebesar lima puluh pound, dan dalam sebulan dia bisa menghasilkan uang sekitar seribu pound. Uang sebesar itu sudah lebih dari cukup untuk hidup satu bulan di Kairo. Karena, rata-rata kebutuhan masisir hanya lima ratus pound dalam sebulan.
Lalu,  jika lima ratus pound sudah cukup untuk sebulan, kenapa kang Jaisy bekerja lebih sering? Padahal kalau dihitung-hitung, dua hari bekerja dalam seminggu sudah cukup.
Aku pun pernah mendengar Buya Yahya menasehati salah seorang muridnya yang menuntut ilmu sambil berbisnis. Lalu beliau mengutip perkataan seorang syaikh, “lan tanjah fi ‘ilmik wa lan tanjah fi tijarotik.”
Kesimpulannya, kalau ingin bisnis yang serius, lebih baik saat sudah selesai dari menuntut ilmu agama. Begitupun sebaliknya.
Oleh karena itu, dua tahun yang lalu aku beranikan diri untuk bertanya kepada kang Jaisy.
“Kang! Maaf ni, sampean kok sering banget kerja, ya? Aku pikir, dengan gaji sampean tu, delapan hari kerja sudah cukup untuk sebulan.”
“Hmm…. Iya sih bener. Tapi aku ada keperluan lain e di Indonesia. Jadi terpaksa harus kerja lebih.”
“Kalau boleh tau, itu keperluan apa, ya, Kang?”
 “Sayangnya ente gak boleh tau. Lagia, mau tau aja urusan orang.”
“Yaelah… cuma penasaran aja keleus…”
“Ya ampun… kepo banget sih, loe! Udah, belajar aja sono! Ojo sampe rosib koyo aku. Kalau koe nangis, aku gak ndue permen.”
“Hadeh… seneng men main rahasia-rahasia an.  Sopo juga seng bakal rosib. Sampean juga jangan sampe rosib lagi, Kang!”
“Santai! Tahun iki cuma enam maddah.”
Ketika itu, dia terlihat begitu susah. Bayangkan saja, dia bekerja selama empat belas jam sehari. Pulang kerja pasti badan sangat letih, penuh keringat dan bau asap. Jadi harus mandi  dan langsung istirahat.
Parahnya lagi, waktu mendekati imtihan, dia masih bekerja. Jadi memang wajar kalau beberapa kali dia rosib. Untungnya paling banyak dia rosib delapan maddah dari total tujuh belas maddah. Untuk seorang yang kuliah sambil bekerja, itu hasil yang tidak begitu buruk. Karena banyak juga yang sampai rosib lima belas maddah. Gila, ya?
Dan hal lain yang membuatku lebih sedih adalah, seringnya dia shalat tidak tepat waktu. Shalat Isya biasa ditunaikannya di jam satu pagi setelah pulang kerja. Karena kondisi math’am yang sangat ramai di malam hari, tidak memungkinkan bagi para pegawai untuk shalat Isya di math’am. Bahkan, beberapa kali aku lihat dia shalat Shubuh di jam sembilan atau sepuluh pagi. Wow banget, kan?
Dulu, dia pernah mencoba membangun math’am di Darrosah. Tapi itu hanya bertahan satu bulan setengah. Setelah itu, dia balik lagi kerja di math’am yang lama sampai sekarang.
Berbeda dengan seorang kawan yang sama-sama kuliah di Al-Azhar. Sebut saja dia Erik. Hidupnya kecukupan, tiap bulan dapat kiriman uang, kebutuhan selalu terpenuhi, bahkan dia memiliki beberapa elektronik mahal. Tapi sayangnya suka bermain-main. Tidak pernah serius dalam urusan belajar, terbuai dengan lingkungan para pemalas yang merusak dan tak mendidik. Bahkan dia lebih sibuk dengan pacar dari pada kuliah. Sampai mengakibatkannya harus menempuh tingkat satu selama tiga tahun. Padahal dia tidak bekerja. Menyedihkan banget, kan?
Setahun pun berlalu semenjak terakhir aku bertanya tentang pekerjaan kang Jaisy. Herannya, dia sekarang kerja full di math’am, dan itu hanya sampai jam empat sore. Jadi, satu bulan sebelum imtihan termin tsani dimulai, aku menyempatkan diri untuk bertanya lagi.
“Kang! ngomong-ngomong, sekarang sampean jadi kerja tiap hari?”
“Iya, emang nyapo?”
“Bentar lagi imtihan, lho! Nggak takut rosib eneh?”
“Tenang ae! Sekarang aku wes jadi koki sekaligus manajer dan sore udah bisa pulang. Jadi gak masalah kerja tiap hari. Lagian, sekarang bisa belajar lebih sering.”
“Wah-wah… mabruk, Kang... Udah jadi bos dong saiki? Harus haflah ki lak ngono. Hehe”
“Santai…. Gajian nanti bakal pesta kita!”
“Asekkk… gak nyesel satu rumah bareng sampean, Kang! Hahaha”
“Halah lambemu! Senenge lak ditraktir, tapi gak tau nraktir.”
“Hehe… duitku nipis, Kang! Bedo karo sampean yang udah jadi bos.”
“Nah, trus saiki sampean gak bisa kuliah sama sekali dong?” tanyaku lagi.
“Ya terpaksa. Sayang banget kalau kerja ni ditinggalin. Kiromu gampang po untuk bisa jadi manajer? Aku harus kerjo neng kono terus nganti dua tahun baru dadi manajer.”
“Trus, bakal gak kuliah sampe lulus, no?”
“Ya nggak gitu juga. Rencanane aku mau ngumpulin modal buat usaha. Biar bisa bisnis sekaligus kuliah, dan gak jadi pegawai terus.”
“Baguslah kalau gitu. Kiroku, sampean ke sini buat dadi TKI. Hehe ”
Telo gosong tenan ni bocah. Udah sono belajar yang bener! Syukur tu ente udah berkecukupan. Jadi fokus kuliah aja. Kalau rosib, mampus ente!”
 “Oke, Boss… tenang ae, nggak bakal rosib aku.”
Dalam hati aku berkata, jadi gitu to alasannya yang sekarang. Tapi sayang sekali, untuk sementara dia tidak bisa kuliah atau talaqqi. Ah, masalah apa sih yang sebenarnya dia punya? Penasaran banget aku. Yang penting, moga keputusannya sekarang baik untuk kedepannya. Amin.
Satu tahun telah berlalu. Sekarang dia lebih santai. Walau bekerja setiap hari, tapi pada waktu sore, malam dan paginya bisa dia gunakan untuk belajar. Persiapan imtihan pun lebih maksimal.
Dan sekarang…. Alhamdulillah dia bisa najah shofy dengan nilai yang cukup baik dapat gaji semakin banyak. Itu merupakan suatu pencapaian yang sangat memuaskan baginya.

Kairo, 6 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar