Hari
berganti hari dan tiba lah saat nya ane harus berangkat ke Mesir. Hari itu pun
terasa begitu campur aduk dan membingungkan. Antara sedih dan bahagia. Sedih
karena harus terpisah jauh dari Bunga dan bahagia karena akhirnya salah satu
impian ku tercapai.
Waktu
itu, aku ditemani ayahku, tetehku dan satu adik kecilku. Mereka menemaniku
hanya sampai waktu maghrib. Sebenarnya ayah gak ingin mengantarku karena
melihat biaya. Tapi, pemberi beasiswa ku ingin bertemu ayahku. Karena beliau
sibuk, beliau tidak bisa datang langsung menemui ayahku. Jadi ayahku lah yang
harus mengalah dan menemui beliau.
Tapi,
pada akhirnya aku hanya sendiri ketika waktu maghrib tiba. Pemberi beasiswa ku
pun hanya datang sebentar, ngobrol sebentar dengan ayahku, memberiku uang
pegangan dan pergi. Ayahku, tetehku dan adik ku pun segera pergi ketika maghrib
selesei. Padahal waktu keberangkatanku nanti malam sekitar jam satu petang.
Walau
begitu, ada satu orang yang tetap menemaniku smpai aku berangkat. Walau hanya
lewat sms, tapi itu sangat berkesan. Yeah, siapa lagi kalau buka si Bunga. Dia
dalam sms nya begitu sedih dan mengatakan siap menunggu aku pulang dan datang
untuk menikahinya.
Hingga
akhirnya aku duduk di pesawat pun kami masih sms an. Dan suasana terasa
menyedihkan, aku harus meninggalkan dia jauh ke negeri orang dan aku belum tau
kapan akan pulang.
Sampai
akhirnya ada peringatan di pesawat untuk mematikan setiap handphone karena
pesawat akan segera terbang. Dan ku ucapkan padanya salam perpisahan seperti
hari hari biasa. Karena aku berjanji akan segera menghubunginya nanti ketika
sampai di Mesir.
Pesawat
pun akhirnya lepas landas dam mulai terbang meluncur menghantam angin dan
melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa.
Sesampainya
di Mesir, aku segera membeli kartu telepon untuk bisa segera mengabari orang
tua dan mengabari Bunga agar mereka tenang dan senang bahwa aku telah sampai di
Mesir dengan selamat. Tapi, aku masih belum bisa mengobrol banyak dengan mereka
dikarenakan biaya sms dan telpon sangat lah mahal. Aku harus mencari cara yang
tepat untuk bisa berkomunikasi dengan mudah ke Indonesia.
Sampai
akhirnya kutemukan ide itu. Yaitu lewat FB atau Whatsapp. Dan saat itu aku
bahkan belum punya handphone yang bisa buat FB an dan Whatsapp an, beitupun
juga dia. Dan kami putuskan untuk membeli handphone baru.
Setelah
sekian lama kami mencari, akhirnya dapat handphone yang sesuai. Lalu komunikasi
kami berjalan lancer lagi seperti dulu. Dan dia bercerita kalau setelah aku
berangkat ke Mesir ini, dia mengalami sakit demam hingga satu minggu. Terlebih
selama itu jug aku tidak bisa menghubungi seperti saat aku di Indonesia. Dia merasa
sangat sedih dan tertekan, itu pun membuat aku sedih dan murung. Tapi, aku
terus menghiburnya dan memberinya motivasi dan semangat agar dia tetap
menjalani hidup dengan ceria seperti dulu kala.
Dan
waktu pun bergulir begitu cepat. Dia pun sudah mulai terbiasa dengan hubungan
jarak jauh seperti ini. Hingga suatu saat, dia mengikuti olypiade yang diadakan
setiap tahun di Dunia. Dia pun terpilih menjadi perwakilan dari Lampung dengan
seorang teman laki lakinya. Itu suatu prestasi yang cukup besar, karena dari
sekian banyak sekolah di Lampung yang mengikuti olimpiade tersebut, dia lah
yang terpilih. Dan tentu saja dia mengharumkan nama Lampung sehingga masuk
berita di koran Lampung. Orang tuanya, keluarganya, guru gurunya dan teman
temannya sangat bangga terhadapnya. Termasuk aku.
Namun,
saat itu kami sudah sangat sering berantem dan putus nyambung karena banyak
hal. Dan ketika dia menang olympiade tingkat Nasional, kami waktu lagi brantem
dan saling diam. Hingga aku gak mengucapkan kata selamat ke dia sedikit
pun. Dan dia pun sangat kecewa.
Hingga
akhirnya dia terpilih lagi untuk mengikuti olympiade tingkat Internasional, dan
kami masih saling diam dan gak pernah menyapa.
Walau
begitu, aku masih sering memperhatikannya lewat facebook atau bbm.
bikin lapeer.... :v loloololol
BalasHapus