fashion pria

Jumat, 14 Oktober 2016

Keberangkatan ke Mesir


Hari berganti hari dan tiba lah saat nya ane harus berangkat ke Mesir. Hari itu pun terasa begitu campur aduk dan membingungkan. Antara sedih dan bahagia. Sedih karena harus terpisah jauh dari Bunga dan bahagia karena akhirnya salah satu impian ku tercapai.
Waktu itu, aku ditemani ayahku, tetehku dan satu adik kecilku. Mereka menemaniku hanya sampai waktu maghrib. Sebenarnya ayah gak ingin mengantarku karena melihat biaya. Tapi, pemberi beasiswa ku ingin bertemu ayahku. Karena beliau sibuk, beliau tidak bisa datang langsung menemui ayahku. Jadi ayahku lah yang harus mengalah dan menemui beliau.
Tapi, pada akhirnya aku hanya sendiri ketika waktu maghrib tiba. Pemberi beasiswa ku pun hanya datang sebentar, ngobrol sebentar dengan ayahku, memberiku uang pegangan dan pergi. Ayahku, tetehku dan adik ku pun segera pergi ketika maghrib selesei. Padahal waktu keberangkatanku nanti malam sekitar jam satu petang.
Walau begitu, ada satu orang yang tetap menemaniku smpai aku berangkat. Walau hanya lewat sms, tapi itu sangat berkesan. Yeah, siapa lagi kalau buka si Bunga. Dia dalam sms nya begitu sedih dan mengatakan siap menunggu aku pulang dan datang untuk menikahinya.
Hingga akhirnya aku duduk di pesawat pun kami masih sms an. Dan suasana terasa menyedihkan, aku harus meninggalkan dia jauh ke negeri orang dan aku belum tau kapan akan pulang.
Sampai akhirnya ada peringatan di pesawat untuk mematikan setiap handphone karena pesawat akan segera terbang. Dan ku ucapkan padanya salam perpisahan seperti hari hari biasa. Karena aku berjanji akan segera menghubunginya nanti ketika sampai di Mesir.
Pesawat pun akhirnya lepas landas dam mulai terbang meluncur menghantam angin dan melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa.
Sesampainya di Mesir, aku segera membeli kartu telepon untuk bisa segera mengabari orang tua dan mengabari Bunga agar mereka tenang dan senang bahwa aku telah sampai di Mesir dengan selamat. Tapi, aku masih belum bisa mengobrol banyak dengan mereka dikarenakan biaya sms dan telpon sangat lah mahal. Aku harus mencari cara yang tepat untuk bisa berkomunikasi dengan mudah ke Indonesia.
Sampai akhirnya kutemukan ide itu. Yaitu lewat FB atau Whatsapp. Dan saat itu aku bahkan belum punya handphone yang bisa buat FB an dan Whatsapp an, beitupun juga dia. Dan kami putuskan untuk membeli handphone baru.
Setelah sekian lama kami mencari, akhirnya dapat handphone yang sesuai. Lalu komunikasi kami berjalan lancer lagi seperti dulu. Dan dia bercerita kalau setelah aku berangkat ke Mesir ini, dia mengalami sakit demam hingga satu minggu. Terlebih selama itu jug aku tidak bisa menghubungi seperti saat aku di Indonesia. Dia merasa sangat sedih dan tertekan, itu pun membuat aku sedih dan murung. Tapi, aku terus menghiburnya dan memberinya motivasi dan semangat agar dia tetap menjalani hidup dengan ceria seperti dulu kala.
Dan waktu pun bergulir begitu cepat. Dia pun sudah mulai terbiasa dengan hubungan jarak jauh seperti ini. Hingga suatu saat, dia mengikuti olypiade yang diadakan setiap tahun di Dunia. Dia pun terpilih menjadi perwakilan dari Lampung dengan seorang teman laki lakinya. Itu suatu prestasi yang cukup besar, karena dari sekian banyak sekolah di Lampung yang mengikuti olimpiade tersebut, dia lah yang terpilih. Dan tentu saja dia mengharumkan nama Lampung sehingga masuk berita di koran Lampung. Orang tuanya, keluarganya, guru gurunya dan teman temannya sangat bangga terhadapnya. Termasuk aku.
Namun, saat itu kami sudah sangat sering berantem dan putus nyambung karena banyak hal. Dan ketika dia menang olympiade tingkat Nasional, kami waktu lagi brantem dan saling diam. Hingga aku gak mengucapkan kata selamat ke dia sedikit pun. Dan dia pun sangat kecewa.
Hingga akhirnya dia terpilih lagi untuk mengikuti olympiade tingkat Internasional, dan kami masih saling diam dan gak pernah menyapa.

Walau begitu, aku masih sering memperhatikannya lewat facebook atau bbm.

1 komentar: