fashion pria

Jumat, 14 Oktober 2016

Putus atau Nikah


          Siang itu cuaca cukup terik dan polusi udara diluar rumah sangatlah banyak. Asap yang keluar dari setiap kendaraan membuat udara begitu sesak ditambah banyaknya orang yang merokok dijalanan yang membuat setiap rang yang cinta akan kesehatan harus memakai masker ketika keluar rumah. Itulah potret kecil dari buruknya cuaca di Cairo. Kalau gak ada urusan yang penting banget, orang orang malas keluar rumah, dan pastinya lebih suka duduk santai dirumah sambil menyalakan AC atau kipas angin.
            Padahal saat itu belum masuk musim panas dan baru selesei dari musim dingin. Ane tak tau apakah itu musim semi atau musim gugur. Karena yang ku tahu di Mesir ada dua musim, yaitu musim panas dan musim dingin. Ketika musim panas puncak, cuaca akan menggila dan menjadi sangat sangat panas hingga mencapai 45 derajat celcius. Tidak hanya itu, udara yang kita hirup pun akan menjadi sangat panas dan sesak walau kita jauh dari jalanan yang penuh asap kendaraan. Itu bisa membuat sebagian orang mimisan dan pusing karena tidak terbiasa atau tidak kuat dengan suhu ekstrim seperti itu.
            Adapun ketika puncak musim dingin, suhu bisa mencapai 8 derajat celcius. Walau tidak mencapai nol derajat celcius, itu sudah sangat sangat dingin bagi para mahasiswa Asia yang terbiasa dengan suhu tropis. Bahkan, ketika di dalam ruangan pun masih harus memakai jaket tebal, kaos kaki tebal, slimut tebal dan penutup kepala tebal yang tak pernah dipakai ketika di Asia. Begitulah kurang lebih perbedaan musim di Mesir.
            Dan siang itu, cuaca cukup stabil. Tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Namun, karena karena mungkin hari itu sudah mendekati musim panas, penatnya kendaraan dijalanan dan diwaktu siang, jadi cuaca tidak cukup mendukung untuk keluar rumah kalau bukan urusan mendesak atau suatu kewajiban seperti shalat fardhu berjamaah di masjid bagi seorang laki laki muslim yang mendengar adzan dan mampu untuk datang kemasjid walaupun buta.
            Hal yang sama terjadi dengan Budi, seorang mahasiswa Al Azhar dari Surakarta. Bunga terlihat serius bermain handphone nya. Lebih tepatnya bunga sedang chatingan dengan seseorang di dalam kamar yang berantakan, baju, handuk, celana dan termasuk celana dalam bergelantungan di banyak tempat. Di pintu,di  kursi, di pintu lemari dan bahkan di atas meja. Tidak hanya itu, ada beberapa piring dan gelas kotor yang berserakan dimana mana, seprei kotor yang gak rapi, susunan kasur yang semerawut, bekas bungkus makanan yang berserakan dan lantai yang kotor menjadi suatu ciri khas bagi kebanyakan anak kos laki laki.
            Bagi anak kos, itu suatu hal yang sangat biasa. Termasuk saya dan Budi. Yeah, tau sendiri kan anak laki laki tu kebanyakan gak peka dalam masalah kebersihan, di tambah jauh dari orang tua dan harus mengatur hidupnya sendiri. Lengkap sudah kebebasan yang bunga punya.hehe
“Arrgghhh, sial sial sial !!!,” umpatan Budi yang terlihat kesal dan marah. Karena kepo, langsung aja ane bertanya ke bunga.
“Ada apa Bud?,” tanyane penasaran.
“Gak ada apa apa kok Ded, Cuma masalah remaja aja.” Jawabnya dengan lemas, cuek dan bete. Tanpa melihat kearahku. Dan pertanda ada suatu masalah yang perlu dirundingkan.
            Tentu saja sebagai seorang muslim, kita harus saling membantu teman kita yang ada masalah. Tidak baik bagi kita untuk menbungamkan kawan kita yang sedang ada masalah dan membutuhkan bantuan.
            Kucoba tenangkan kawanku ini. Kuhampiri bunga dan ku tanya baik baik. Siapa tau ane bisa membantu. Kalau memang itu masalah pribadi atau aib yang tidak boleh orang lain tahu, maka ane akan mendoakannya dan memberinya semangat agar masalahnya terselesaikan dengan baik.
“Udah cerita aja! Sesame muslim harus saling tolong menolong dalam kebaikan dan kesabaran kan !?, siapa tau ane bisa bantu meringankan masalah ente.”
“Ane malu dan agak ragu mau cerita ke Ente.”
“Yaelah Budi Budi, kaya sama orang lain aja !.”
“OK ane cerita ni. Dan  ceritanya, ane abis brantem sama cewek ane, Ded. Puas Ente !?”
“Hah !? Ente selama ini pacaran sama siapa ?, ane gak pernah tau ente deket sama cewek di sini.” Tanyane keheranan. Karena memang bunga disini tidak pernah terlihat dekat dengan cewek manapun. Dan juga kawan kawan yang lain tidak ada yang cerita. Biasanya, kalau ada mahasiswa yang pacaran di Mesir ini, pasti semua teman satu rumahnya tau dan akan jadi suatu kehebohan tersendiri. Karena di Mesir ini menjadi suatu hal yang Wow jika ada yang pacaran. Gak kaya di Indonesia.
“Ane pacaran sama yang di Indonesia.” Jawabnya singkat.
“Ente tau kan, kalau laki laki dan perempuan yang bukan mahrom saling ber ikhtilat itu haram hukumnya. Apalagi pacaran.”
“Ane pacarannya islami, Dedi. Kami cuma chatingan dan tukar foto yang sopan dan bunga gak pernah lepas jilbab. Juga, ane gak pernah sentuhan sama bunga, gak pernah jalan bareng sama bunga, gak pernah berduaan sama bunga dan kita sama sama saling menjaga diri kok. Apalagi sampe yang aneh kaya pelukan, ciuman dan zina. Na’udzubillah min dzalik.” Pungkas nye membela diri dan menjelaskan.
“Yaelah Budi. Siapa yang ngajarin ente tentang pacaran islami ?. Walaupun kalian Cuma chatingan dan tukar foto, kalian tetep ber ikhtilat. Kalian saling sayang sayangan, cinta cintaa, bercanda ria, zina mata, zina hati, zina pikiran dan kalian tetep berduaan walau lewat internet. Kenapa gak ente halalin aja sekalian !?. Trus, kalau emang belom ada dana yang cukup, kalian bisa pisah dulu sambil nabung dan cari usha yang lebih mapan. Juga gak usah buat anak dulu, kalau emang dirasa belum siap. Kaya gitu kan lebih indah dan gak dosa, bahkan dapet pahala. Apalagi kalau kalian cuma chatingan .” kritikku sambil member sedikit solusi.
“Aduh Ded, susah banget ni untuk kesananya. Ente gak tau ceritanya sih.” Jelasnya dengan nada membela diri.
“Yaudah, sekarang gimana ceritanya dan jelasin masalahnya. Siapa tau ane dan kawan kawan disini bisa bantu.”
“Hmm,,, yaudah ni gue cerita. Bunga adik kelas ane di pondok dulu. Kita cuma saling kenal aja dan tau nama. Kebetulan pondok ane gak terlalu besar dan santrinya juga masih sedikit, jadi hampir semua orang dari kelas satu tsanawiyah sampai kelas tiga aliyah kita kenal. Ane sama bunga bahkan gak pernah ketemu, gak pernah ngobrol, gak pernah saling tegur sapa dan bahkan saling tatap muka aja gak pernah.
Hari berganti dan gak kerasa udah hampir satu tahun ane di pondok itu. Dan ane semakin kenal dengan bunga. Bunga adalah anak dari seorang yang terpandang di kotanya, keluarga besarnya berpendidikan semua dan kaya semua, termasuk orang tua nya. Bunga anaknya cerdas, selalu dapat peringkat pertama ketika SDIT yang cukup favorit dan elit di sana, di pondok aja bunga dapet pringkat pertama terus dari kelas 1 MTs sampai kelas 3.
Kalau soal kecantikan mah jangan ditanya. Bunga tu bisa dibilang yang paling cantik di pondok tu. Ane beneran ini. Banyak banget cowok yang nyukain bunga, termasuk ane. Hehe. Ditambah lagi bunga orangnya baik, alim, shalehah, menjaga diri,menjaga iffahnya, gak suka di goda cowok, gak mau ditelpon cowok, kalau ada yang sms aneh aneh aja gak dibales dan gak diladenin sama bunga, bunga juga orangnya tegas. Kalau ada yang macem macem ke bunga, bunga marah marah, bahkan ngelawan.
Ada yang cerita, waktu SD dulu ada temen cowoknya yang suka nakalin cewe. Sebut saja bunga Marimo. Trus, Marimo ini juga mau nakalin bunga. Eh, bunga malah ngelawan balik dan ngajakin berantem. Bunga ambil sapu lantai dan dipukulnya si Marimo itu sampai nangis. Pernah juga waktu MTs ada temen cowoknya yang munafik. Temen cowoknya ini suka nyari muka didepan guru nya dan menyalahkan temannya yang lain. Sebut saja namanya Paijo.
Ceritanya, ketika itu si Paijo ingin cari muka di depan gurunya dengan melaporkan kenakalan atau pelanggaran yang dilanekan oleh cewek ane dan teman temannya. Seperti di sekolah membawa handphone dan chatingan atau main game ketika guru tidak ada atau istirahat. Padahal, si Paijo ini sering juga minjem handphone cewek ane temen temen nya buat nge game atau kirim sms. Kan munafik banget si Paijo ini.
Karena kemunafikan si Paijo ini, cewek ane dan geng nya di marahin guru abis abisan dihadapan murid murid lainnya serta handphone mereka semua disita. Setelah guru puas marahin mereka, pastinya mereka semua nangis, malu, jengkel dan marah banget. Kecuali cewek ane, bunga malah ngelabrak si Paijo ini dengan kata kata yang sangat nyelekit, nusuk dan skak mate. Seperti, “dasar penjilat, gak berterimakasih, munafik, tukang nusuk temen, penghianat, menjijikkan, gak tau malu dll”. Si Paijo gak bisa ngomong atau bales perkataan cewek ane. Bunga malah langsung minta maaf dan gak pernah lagi berani ngusik cewek ane dang eng nya. Hehe
 Yeah, cewek ane tu emang tegas dan keras orangnya. Wataknya kuat dan gak pernah tanet. Bahkan ketika jerit malam. Ceritanya begini, di pondok setiap tahunnya sebelum liburan akhir kelas, selalu bungadakan kemah dan pramuka di area pondok bagi seluruh anak kelas 1, 2 MA dan MTs. Dan anak kelas 3 MA dan MTs menjadi panitianya serta beberapa guru pastinya.
Nah, di malam terakhir kemah di adakan api unggun sambil diselingi beberapa pentas seni dari setiap regu. Ada yang menampilkan lawakan, pantonim, dance ala Inbunga atau Korea, boy band, nasyid dan drama. Setelah acara pentas seni dan api unggun pun selesai, semua lampu dimatikan karena itu adalah waktunya renungan malam.
Dalam acara itu kami semua disuruh saling bergandengan kanan dan kiri kami melingkari lapangan yang cukup luas. Tentunya dipisah antara laki laki laki dan perempuan. Sambil memutar lagu kitaro agar suasana malam yang gelap nan sunyi itu bertambah sedikit menyentuh, sang kiyai mulai berceramah, menasehati kami dan bercerita suatu hal yang menyedihkan, mengharukan dan menyentuh hati kami. Banyak di antara kami yang menangis tersedu sedu dan banyak pula yang tidak mendengarkan karna terlelap dalam mimpi.
Setelah renungan malam selesai, kami di suruh kembali ke tenda masing masing dan tidur. Sebagian besar atau semua dari santri sudah tau kalau nanti aka nada jerit malam. Dan benarlah itu, satu persatu dari kami dibangunkan untuk melaksnakan jerit malam.
Banyak kisah lucu disitu. Ada yang nangis menjerit dan menolak untuk melanekan jerit malam, sampai harus di seret oleh panitia. Ada pula yang nangis lalu baru jalan beberapa meter pingsan karena sangking tanetnya. Juga ada yang membaca dzikir terus menerus karena ketanetan. Dan pastinya dari sekian banyak orang yang ketanetan itu ada beberapa orang pemberani. Yeah, jumlah pemberani di dunia ini sangat lah sedikit dibandingkan para penanet dan pengecut.
Lalu, ktika sampai di pintu masuk kuburan. Ada panitia yang bersembunyi di balik pohon dekat pintu masuk sambil mengenakan kostum pocong yang cukup mengerikan. Dan tentu saja banyak yang ketanetan, menjerit, berteriak, berlari, beristigfar, sampai ada yang lari sambil teriak minta tolong hingga kencing di celana. Hehe
Tapi, lain lagi dengan cewek ane ini. Bunga malah ngelawan dan menantang si pocong jadi jabungan ini dengan gaya jacky chan ketika melawan musuh musuhnya sambil berteriak keras, “ayo lawan ane, ane gak tanet sama kamu.” Bahkan suaranya sampai terdengar hingga jarak 50 an meter. Haha
Yeah, bunga emang cewek yang sangat unik dan menarik, Ded. Bunga juga sering di pilih jadi ketua. Entah itu ketua kelas, ketua kelompok atau ketua asrama karena ketegasannya itu. Bahkan, bunga berani ngomelin kakak kelasnya yang ngelanggar berlebihan peraturan pondok.
Bunga cewek yang sangat di hormati, disegani dan disayang sama banyak orang karena keperibabungannya. Ane kagum banget lah pokoknya sama bunga.
Walau gitu, ane tetep gak bisa ngungkapin prasaan ku ke bunga sampai lulus sekolah atau keluar dari pondok. Karena di pondok emang dilarang keras pacaran. Hukumannya juga ngeri banget. Bukan cuma di gundul dan harus baca surat pernyataan di hadapan semua guru dan murid, tapi orang tua juga ikut hadir.
Ane cuma bisa memandangnya dari jauh waktu itu. Dan ketika waktu libur, ane mengambil kesempatan deketin bunga lewat sms nasehat, ngingetin bunga untuk ibadah, bangunin shalat tahajud, ngemotivasi bunga dan jadi tempat curhat kalau bunga punya masalah. Ane ngeliat bunga kayaknya ngerespon positif ane dan ini membuatku semakin optimis buat maju.
Hingga akhirnya ane dan dua teman ane kena masalah besar dan rumit. Yang membuat ane dan kedua teman ane harus meraskan dipermalukan di depan guru guru, adik kelas, teman sekalas,kakak kelas baik itu putra maupun putrid dikumpulkan untuk melihat ane dan kedua temanku dimarahi dan dipermalukan. Bukan hanya itu, kami bahkan dikeluarkan dari pondok secara tidak hormat.
Karena hal itu, mau nggak mau ane harus pindah sekolah. Dan kuputuskan untuk pindah sekolah ke Jawa Timur dekat dengan keluarga besar ane dari pihak bapak. Gak terlalu jauh sih dari Solo, Cuma tetep aja harus menempuh jarak yang sedikit lebih jauh dari rumah dan pondok lama, di mana si “Bunga” tinggal.
Perasaan sedih, jengkel, marah, pilu, dendam, gak rela bercampur aduk jadi satu mengobrak abrik hati ane waktu itu. Tapi gimana lagi, itu suatu konsekuensi yang harus ane terima atas keputusan yang ane buat sendiri. Segala sesuatu itu butuh pengorbanan dan segala sesuatu itu ada konsekuensi yang mau atau pun tidak mau harus kita terima. Itulah hidup yang ane rasakan sampai sekarang ini.
Ane gak tau apa tanggapan Bunga dengan tindakan ane waktu itu. Apakah dia kecewa dan jengkel sama ane atau tetep berfikir positif terhadap ane. Entahlah, waktu itu ane Cuma mikir gimana sekolah baru ane dan gimana cara betah di sana. Dan juga, ane ada tugas dari bapak untuk cari keluarga yang udah lama gak pernah ketemu, bahkan ane aja gak pernah ketemu sama keluarga yang di sono.
Berjalan lah waktu hingga akhirnya datang waktu libur. Tidak seperti waktu libur tahun tahun sebelumnya, tahun init eras sangat berbeda. Karena tahun ini ane gak bisa pulang ke kampong halaman. Bahkan kemungkinan besar lebaran Iedul Fitri ane jalanin di sini. Namun, ada hal yang sama seperti tahun tahun sebelumnya. Yaitu sms an sama teman teman baru atau pun lama. Termasuk sms an sama Bunga.
Awalnya ane ragu dan malu buat sms dia. Tapi akhirnya ane yakinkan diri ane buat beraniin sms dia. Yeah, sekedar nanya kabar juga kan gak papa. Lagian gak mungkin banget kalau si Bunga yang sms duluan ke ane. Karena malu dan menjaga iffah wanita pastinya.
“Assalamu’alaikum Bunga, gimana kabarnya ?,” sms ku yang sangat singkat itu langsung ku kirim ke bunga. Dan gak lama kemudian, Bunga bales sms ane. Woaah, itu bikin ane deg deg an buat buka dan baca isi balesan Bunga itu. Ane takut Bunga malah marah, kecewa dan males lagi komunikasi sma ane. Tapi, dugaan ane ternyata salah.
“Wa’alaikum salam wr wrb. Alhamdulillah baik kak, kakak sendiri gimana kabarnya ?, Bunga harap kakak tetep semangat dan ceria seperti dulu.” Itulah balasan sms Bunga yang menunjukan dia masih peduli sama ane. Woaah,, hari ane jadi berbunga bunga saat itu dan entah kenapa ane jadi senyum senyum sendiri baca balesan Bunga itu. Kaya ada manis manisnya gitu.
“Oh syukurlah kalau Bunga baik baik aja, kakak Alhamdulillah juga baik. Ya kakak tetep semangat kok dan insyaallah tetep ceria. Walau beda suasana dan ada yang kurang sedikit, kakak insyaallah bakal tetep ceria. Gimana hasil ujian smester ke dua kemaren ?, masih tetep dapet ranking satu kan !?. balasku lagi ke Bunga.
“Syukurlah kalau kakak baik juga, lega Bunga dengernya. Bunga khawatir kakak jadi gak semangat dan ceria lagi kaya dulu. Haduh, kalau ditanya pringkat berapa, Bunga jadi malu. Bunga semester ini turun jadi pringkat ke dua. Hehe . Oh ya,Emang di pondok baru kakak ada yang kurang sedikit itu apa kak ?.” Balasan Bunga kali ini membuat ane semakin senyum senyum lagi dan ane menjadi semakin ke pe de an karena bunga merasa khwatir dengan keadaan ane. Entah itu hanya bentuk kiasan sopan santun atau memang dia benar benar mengkhawatirkan ane. Entahlah, yang jelas hari yang gelap, mendung dan terlihat akan hujan pada waktu itu menjadi terasa sangat cerah dan cuaca yang dingin pun menjadi hangat. Apakah ini yang orang bilang dengan cinta !? Entahlah.
“Waduh, kok bisa turun gitu ?, emang gimana ceritanya ?, dan kalah sama siapa ?.” Tanyaku penuh heran, karena Bunga adalah murid yang tercerdas di kelas dan setauku waktu smester pertama kemarin, nilai rapornya dengan nilai rapor kawannya yang dapat pringkat ke dua sangat lah jauh perbandingannya. “Kalau yang kurang sedikit disini tu karena gak ada Bunga disini, Hehe.” Balasku dengan sedikit menggombal.
“Haduhh, kakak ni malah nge gombal lo! Orang ditanya serius kok. Tapi, boleh lah gombalannya, hehe. Hmm,, pringkat Bunga nurun karena gak bisa liat keriangan kakak lagi kemarin. Ceilee, haha.” Balasan Bunga kali ini semakin wow dan menggelegar bagai petir yang menyambar dising bolong. Walau mungkin terlihat bercanda, tapi ini suatu hal yang wow banget bagi seorang pemuda yang merasakan getir getir cinta pada sang pujaan hatinya.
Dan hari itu pun kami terus bercanda ria layaknya dulu. Bahkan, ini lebih dekat dan lebih terasa bahwa dia pun menyimpan rasa yang sama seperti apa yang ane rasakan waktu itu. Ane seneng karena ane gak ngerasain pahitnya cinta yang tak terbalas.
Lalu, akhirnya tiba dimana dia lulus dari MTs. Kami tetep saling komunikasi, tapi kami gak saling mengungkapkan perasaan kami. Walau ane punya rasa ke dia dan ane rasa dia juga memendam rasa yang sama ke ane, ane belom ingin ngungkapin perasaan cinta an eke dia karena faktor dia masih di pondok dan pastinya gak boleh pacaran. Ane gak ingin membuat nama dia jelek di depan guru.
Waktu kami saling sms, dia cerita kalau akan pindah ke sekolah umum. Karena di punya cita cita ingin jadi ilmuan dibidang tumbuha. Dan itu gak bisa dia dapet di pondok.
Ketika ane tau itu, ane malah seneng dan menganggap ini kesempatan buat ane untuk ngungkapin perasaan ane ke dia. Hingga akhirnya, ane menemukan momen yang tepat untuk nembak dia dan ane pun berhasil total. Dia benar benar merasakan hal yang sama ane rasakan. Oh indahnya hidupku. Itulah hal yang waktu itu ane rasain.
Namun, walau ane bilang suka ke dia dan dia nerima ane dengan tulus tanpa syarat yang bertele tele dan tanpa melihat semua kekurangan ane. Dia masih susah banget untuk mengatakan cinta ke ane dan masih belum mau di telpon. Dia bilang orang tua bakal marah kalau dia nerima telpon dari laki laki. Dan ane bisa ngertiin itu.
Waktu pun terus bergulir, siang berganti malam dan malam berganti siang. Ane dan dia terus sms an, bercanda, saling nasehatin, saling ngingetin dalam kebenaran, saling ngingetin ibadah dll. Kami nggak pernah kelewat batas. Yea, beberapa kali kami tukar foto lewat FB, dan itu foto yang sekedarnya dan gak keluar batas dari norma norma agama. Dia aja waktu foto gak pake gaya centil kaya kebanyakan ABG jaman sekarang. Dia tetep jaga muru’ah dan iffah nya sebagai seorang wanita muslimah.
Ane salut banget sama dia. Dan waktu ane keterima di Al Azhar, dia sedih banget karena bakal pisah jauh dan sulit buat komunikasi.
Akhirnya, kami memutuskan untuk saling tukar kado sebagai kenang kenangan. Oh ya, ketika kami saling komunikasi, kami bercanda, saling ejek sampai punya julukan masing masing. Aku memanggilnya monyet karena dia sangat cantik dan dia manggil aku cacing karena aku sangat rajin. Dan kami pun memutuskan untuk menjadikan kado dari dua hal tersebut.
Namun sayangnya, untuk mencari kado dengan pola monyet atau cacing tu sangatlah sulit. Apalagi yang berkenaan dengan cacing. Dan terpaksa aku hanya bisa membelikan dia kado yang bermodel monyet.
Waktu dan tempat penukaran kado pun kami siapkan. Karena kami punya jadwal dan waktu yang berbeda, pasti sangat sulit menentukan kapan bisa bertemu. Juga, orang tua kami adalah tipe yang melarang pacaran. Ane males jelasin kalau ane pacaran islami dan gak neko neko ke orang tua ane. Karena hambatan dan rintangan itu, ane jadi susah gimana cara buat cari kado dan bungkusinnya.
Setelah lama berfikir dan merenung, akhirnya ane temukan solusi dan ide. Dia juga ternyata udah nemuin solusi serta idenya. Kalau ane, ane ngambil kesempatan waktu bapak ane kerja dan yang bungkusin hadiah nya temen cewek ane. Lalu, hadiahnya dititipin dirumah kawan ane dimana waktu hari ane dan Bunga akan ketemuan, ane tinggal ke tempat temen ane itu. Yeah, ini bisa dibilang akal cerdik.
Waktu itu ane minjem motor bapak ane waktu beliau lagi kerja dan ane janji waktu akan pulang kerja ane langsung balikin motornya.
Ane tancap gas waktu itu mengingat waktu sangatlah sedikit. Sampainya di tempat pertemuan, ternyata dia belum datang dan memaksa ane menunggu agak sedikit lama. Perasaan ane waktu itu deg degan dan ane terus mempersiapkan kata kata yang akan ane ucapin nanti. Ini pertama kalinya ane ketemuan sama dia dan akan jadi pertama kalinya juga ane sama dia ngobrol secara langsung.
Detik berganti detik dan akhirnya dia datang bersama kawannya karena gak boleh laki laki dan perempuan yang bukan mahrom berduaan walau hanya tukar kado. Dan dia juga belum bisa naik motor.
Kami pun saling malu malu kucing dan langsung tukar kado. Kawan Bunga terlihat ketawa karena melihat tingkah kami yang saling malu dan saling salah tingkah. Pertemuan pun gak berlangsung lama, hanya sekitar 1 menit kurang. Kata kata yang udah kusiapkan ternyata gak bisa ku ucapkan dan hanya menjadi penyesalan ketika pertemuan selesai. Yeah, namanya gak pernah ketemu dan baru pertama kali, jadi saling malu, salah tingkah dan grogi.
Dia akhirnya pergi bersama temannya. Ane ngasih dia kado yang banyak. Mulai dari jilbab, baju, kaos couple,  buku, gantungan kunci dan boneka. Waktu baru beberapa jauh aku melajukan motor bapak ane, ane dah gak sabar buka kado dia yang terlihat kecil dan terasa ringan. Waktu kubuka, yang kudapat penyesalan karena aku merasa nggk sesuai. Yeah hanya baju koko dan gantungan kunci kecil boneka monyet.
Tapi, setelah kupikir. Bukan itu intinya, intinya adalah bagaimana kita menyikapi hadiah dan makna yang terkandung didalamnya. Dan kita harus tetap bersyukur.
Sebelum pulang, ane mampir dulu ketempat temen, dan gak nyangka ternyata dia lewat juga di area gang rumah temen ane. Dia masih digonceng temennya sambil megang semua hadiah yang ane kasih. Ane gak berani manggil karena malu dan gak enak juga. Dan akhirnya ane hanya bisa melihat dia dari kejauhan.
Lalu, kutancapkan gas motor dan segera kembali ke tempat ayah ane bekerja. Ketika sampai disana ternyata ayah ane udah nunggu cukup lama karena mengejar waktu shalat Jum’at juga. Kebetulan itu hari Jum’at. Yang ane lupa tanggal berapa nya.

Hari itu pun berlalu dengan sejuta rasa. Rasa lucu, malu, senang, bahagia, sedikit kecewa, kesal karena gak bisa berucap apa apa dan berkesan serta membuatku mengenangnya terus tanpa bisa melupakannya hingga hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar