Siang
itu cuaca cukup terik dan polusi udara diluar rumah sangatlah banyak. Asap yang
keluar dari setiap kendaraan membuat udara begitu sesak ditambah banyaknya
orang yang merokok dijalanan yang membuat setiap rang yang cinta akan kesehatan
harus memakai masker ketika keluar rumah. Itulah potret kecil dari buruknya
cuaca di Cairo. Kalau gak ada urusan yang penting banget, orang orang malas keluar
rumah, dan pastinya lebih suka duduk santai dirumah sambil menyalakan AC atau
kipas angin.
Padahal saat itu belum masuk musim
panas dan baru selesei dari musim dingin. Ane tak tau apakah itu musim semi
atau musim gugur. Karena yang ku tahu di Mesir ada dua musim, yaitu musim panas
dan musim dingin. Ketika musim panas puncak, cuaca akan menggila dan menjadi
sangat sangat panas hingga mencapai 45 derajat celcius. Tidak hanya itu, udara
yang kita hirup pun akan menjadi sangat panas dan sesak walau kita jauh dari
jalanan yang penuh asap kendaraan. Itu bisa membuat sebagian orang mimisan dan
pusing karena tidak terbiasa atau tidak kuat dengan suhu ekstrim seperti itu.
Adapun ketika puncak musim dingin,
suhu bisa mencapai 8 derajat celcius. Walau tidak mencapai nol derajat celcius,
itu sudah sangat sangat dingin bagi para mahasiswa Asia yang terbiasa dengan
suhu tropis. Bahkan, ketika di dalam ruangan pun masih harus memakai jaket
tebal, kaos kaki tebal, slimut tebal dan penutup kepala tebal yang tak pernah dipakai
ketika di Asia. Begitulah kurang lebih perbedaan musim di Mesir.
Dan siang itu, cuaca cukup stabil.
Tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Namun, karena karena mungkin hari
itu sudah mendekati musim panas, penatnya kendaraan dijalanan dan diwaktu
siang, jadi cuaca tidak cukup mendukung untuk keluar rumah kalau bukan urusan
mendesak atau suatu kewajiban seperti shalat fardhu berjamaah di masjid bagi
seorang laki laki muslim yang mendengar adzan dan mampu untuk datang kemasjid
walaupun buta.
Hal yang sama terjadi dengan Budi,
seorang mahasiswa Al Azhar dari Surakarta. Bunga terlihat serius bermain
handphone nya. Lebih tepatnya bunga sedang chatingan dengan seseorang di dalam
kamar yang berantakan, baju, handuk, celana dan termasuk celana dalam
bergelantungan di banyak tempat. Di pintu,di
kursi, di pintu lemari dan bahkan di atas meja. Tidak hanya itu, ada
beberapa piring dan gelas kotor yang berserakan dimana mana, seprei kotor yang
gak rapi, susunan kasur yang semerawut, bekas bungkus makanan yang berserakan
dan lantai yang kotor menjadi suatu ciri khas bagi kebanyakan anak kos laki
laki.
Bagi anak kos, itu suatu hal yang
sangat biasa. Termasuk saya dan Budi. Yeah, tau sendiri kan anak laki laki tu
kebanyakan gak peka dalam masalah kebersihan, di tambah jauh dari orang tua dan
harus mengatur hidupnya sendiri. Lengkap sudah kebebasan yang bunga punya.hehe
“Arrgghhh, sial sial sial !!!,”
umpatan Budi yang terlihat kesal dan marah. Karena kepo, langsung aja ane
bertanya ke bunga.
“Ada apa Bud?,” tanyane penasaran.
“Gak ada apa apa kok Ded, Cuma
masalah remaja aja.” Jawabnya dengan lemas, cuek dan bete. Tanpa melihat
kearahku. Dan pertanda ada suatu masalah yang perlu dirundingkan.
Tentu saja sebagai seorang muslim,
kita harus saling membantu teman kita yang ada masalah. Tidak baik bagi kita
untuk menbungamkan kawan kita yang sedang ada masalah dan membutuhkan bantuan.
Kucoba tenangkan kawanku ini.
Kuhampiri bunga dan ku tanya baik baik. Siapa tau ane bisa membantu. Kalau
memang itu masalah pribadi atau aib yang tidak boleh orang lain tahu, maka ane
akan mendoakannya dan memberinya semangat agar masalahnya terselesaikan dengan
baik.
“Udah cerita aja! Sesame muslim
harus saling tolong menolong dalam kebaikan dan kesabaran kan !?, siapa tau ane
bisa bantu meringankan masalah ente.”
“Ane malu dan agak ragu mau cerita
ke Ente.”
“Yaelah Budi Budi, kaya sama orang
lain aja !.”
“OK ane cerita ni. Dan ceritanya, ane abis brantem sama cewek ane,
Ded. Puas Ente !?”
“Hah !? Ente selama ini pacaran sama
siapa ?, ane gak pernah tau ente deket sama cewek di sini.” Tanyane keheranan.
Karena memang bunga disini tidak pernah terlihat dekat dengan cewek manapun.
Dan juga kawan kawan yang lain tidak ada yang cerita. Biasanya, kalau ada
mahasiswa yang pacaran di Mesir ini, pasti semua teman satu rumahnya tau dan
akan jadi suatu kehebohan tersendiri. Karena di Mesir ini menjadi suatu hal
yang Wow jika ada yang pacaran. Gak kaya di Indonesia.
“Ane pacaran sama yang di
Indonesia.” Jawabnya singkat.
“Ente tau kan, kalau laki laki dan
perempuan yang bukan mahrom saling ber ikhtilat itu haram hukumnya. Apalagi
pacaran.”
“Ane pacarannya islami, Dedi. Kami
cuma chatingan dan tukar foto yang sopan dan bunga gak pernah lepas jilbab.
Juga, ane gak pernah sentuhan sama bunga, gak pernah jalan bareng sama bunga,
gak pernah berduaan sama bunga dan kita sama sama saling menjaga diri kok.
Apalagi sampe yang aneh kaya pelukan, ciuman dan zina. Na’udzubillah min
dzalik.” Pungkas nye membela diri dan menjelaskan.
“Yaelah Budi. Siapa yang ngajarin
ente tentang pacaran islami ?. Walaupun kalian Cuma chatingan dan tukar foto,
kalian tetep ber ikhtilat. Kalian saling sayang sayangan, cinta cintaa,
bercanda ria, zina mata, zina hati, zina pikiran dan kalian tetep berduaan
walau lewat internet. Kenapa gak ente halalin aja sekalian !?. Trus, kalau
emang belom ada dana yang cukup, kalian bisa pisah dulu sambil nabung dan cari
usha yang lebih mapan. Juga gak usah buat anak dulu, kalau emang dirasa belum
siap. Kaya gitu kan lebih indah dan gak dosa, bahkan dapet pahala. Apalagi
kalau kalian cuma chatingan .” kritikku sambil member sedikit solusi.
“Aduh Ded, susah banget ni untuk
kesananya. Ente gak tau ceritanya sih.” Jelasnya dengan nada membela diri.
“Yaudah, sekarang gimana ceritanya
dan jelasin masalahnya. Siapa tau ane dan kawan kawan disini bisa bantu.”
“Hmm,,, yaudah ni gue cerita. Bunga
adik kelas ane di pondok dulu. Kita cuma saling kenal aja dan tau nama.
Kebetulan pondok ane gak terlalu besar dan santrinya juga masih sedikit, jadi
hampir semua orang dari kelas satu tsanawiyah sampai kelas tiga aliyah kita
kenal. Ane sama bunga bahkan gak pernah ketemu, gak pernah ngobrol, gak pernah
saling tegur sapa dan bahkan saling tatap muka aja gak pernah.
Hari berganti dan gak kerasa udah
hampir satu tahun ane di pondok itu. Dan ane semakin kenal dengan bunga. Bunga
adalah anak dari seorang yang terpandang di kotanya, keluarga besarnya
berpendidikan semua dan kaya semua, termasuk orang tua nya. Bunga anaknya
cerdas, selalu dapat peringkat pertama ketika SDIT yang cukup favorit dan elit
di sana, di pondok aja bunga dapet pringkat pertama terus dari kelas 1 MTs
sampai kelas 3.
Kalau soal kecantikan mah jangan
ditanya. Bunga tu bisa dibilang yang paling cantik di pondok tu. Ane beneran
ini. Banyak banget cowok yang nyukain bunga, termasuk ane. Hehe. Ditambah lagi bunga
orangnya baik, alim, shalehah, menjaga diri,menjaga iffahnya, gak suka di goda
cowok, gak mau ditelpon cowok, kalau ada yang sms aneh aneh aja gak dibales dan
gak diladenin sama bunga, bunga juga orangnya tegas. Kalau ada yang macem macem
ke bunga, bunga marah marah, bahkan ngelawan.
Ada yang cerita, waktu SD dulu ada
temen cowoknya yang suka nakalin cewe. Sebut saja bunga Marimo. Trus, Marimo
ini juga mau nakalin bunga. Eh, bunga malah ngelawan balik dan ngajakin
berantem. Bunga ambil sapu lantai dan dipukulnya si Marimo itu sampai nangis.
Pernah juga waktu MTs ada temen cowoknya yang munafik. Temen cowoknya ini suka
nyari muka didepan guru nya dan menyalahkan temannya yang lain. Sebut saja
namanya Paijo.
Ceritanya, ketika itu si Paijo ingin
cari muka di depan gurunya dengan melaporkan kenakalan atau pelanggaran yang
dilanekan oleh cewek ane dan teman temannya. Seperti di sekolah membawa
handphone dan chatingan atau main game ketika guru tidak ada atau istirahat.
Padahal, si Paijo ini sering juga minjem handphone cewek ane temen temen nya
buat nge game atau kirim sms. Kan munafik banget si Paijo ini.
Karena kemunafikan si Paijo ini, cewek
ane dan geng nya di marahin guru abis abisan dihadapan murid murid lainnya
serta handphone mereka semua disita. Setelah guru puas marahin mereka, pastinya
mereka semua nangis, malu, jengkel dan marah banget. Kecuali cewek ane, bunga
malah ngelabrak si Paijo ini dengan kata kata yang sangat nyelekit, nusuk dan
skak mate. Seperti, “dasar penjilat, gak berterimakasih, munafik, tukang nusuk
temen, penghianat, menjijikkan, gak tau malu dll”. Si Paijo gak bisa ngomong
atau bales perkataan cewek ane. Bunga malah langsung minta maaf dan gak pernah
lagi berani ngusik cewek ane dang eng nya. Hehe
Yeah, cewek ane tu emang tegas dan keras
orangnya. Wataknya kuat dan gak pernah tanet. Bahkan ketika jerit malam.
Ceritanya begini, di pondok setiap tahunnya sebelum liburan akhir kelas, selalu
bungadakan kemah dan pramuka di area pondok bagi seluruh anak kelas 1, 2 MA dan
MTs. Dan anak kelas 3 MA dan MTs menjadi panitianya serta beberapa guru
pastinya.
Nah, di malam terakhir kemah di
adakan api unggun sambil diselingi beberapa pentas seni dari setiap regu. Ada
yang menampilkan lawakan, pantonim, dance ala Inbunga atau Korea, boy band,
nasyid dan drama. Setelah acara pentas seni dan api unggun pun selesai, semua
lampu dimatikan karena itu adalah waktunya renungan malam.
Dalam acara itu kami semua disuruh
saling bergandengan kanan dan kiri kami melingkari lapangan yang cukup luas.
Tentunya dipisah antara laki laki laki dan perempuan. Sambil memutar lagu
kitaro agar suasana malam yang gelap nan sunyi itu bertambah sedikit menyentuh,
sang kiyai mulai berceramah, menasehati kami dan bercerita suatu hal yang
menyedihkan, mengharukan dan menyentuh hati kami. Banyak di antara kami yang
menangis tersedu sedu dan banyak pula yang tidak mendengarkan karna terlelap
dalam mimpi.
Setelah renungan malam selesai, kami
di suruh kembali ke tenda masing masing dan tidur. Sebagian besar atau semua
dari santri sudah tau kalau nanti aka nada jerit malam. Dan benarlah itu, satu
persatu dari kami dibangunkan untuk melaksnakan jerit malam.
Banyak kisah lucu disitu. Ada yang
nangis menjerit dan menolak untuk melanekan jerit malam, sampai harus di seret
oleh panitia. Ada pula yang nangis lalu baru jalan beberapa meter pingsan
karena sangking tanetnya. Juga ada yang membaca dzikir terus menerus karena ketanetan.
Dan pastinya dari sekian banyak orang yang ketanetan itu ada beberapa orang
pemberani. Yeah, jumlah pemberani di dunia ini sangat lah sedikit dibandingkan
para penanet dan pengecut.
Lalu, ktika sampai di pintu masuk
kuburan. Ada panitia yang bersembunyi di balik pohon dekat pintu masuk sambil
mengenakan kostum pocong yang cukup mengerikan. Dan tentu saja banyak yang ketanetan,
menjerit, berteriak, berlari, beristigfar, sampai ada yang lari sambil teriak
minta tolong hingga kencing di celana. Hehe
Tapi, lain lagi dengan cewek ane
ini. Bunga malah ngelawan dan menantang si pocong jadi jabungan ini dengan gaya
jacky chan ketika melawan musuh musuhnya sambil berteriak keras, “ayo lawan ane,
ane gak tanet sama kamu.” Bahkan suaranya sampai terdengar hingga jarak 50 an
meter. Haha
Yeah, bunga emang cewek yang sangat
unik dan menarik, Ded. Bunga juga sering di pilih jadi ketua. Entah itu ketua
kelas, ketua kelompok atau ketua asrama karena ketegasannya itu. Bahkan, bunga
berani ngomelin kakak kelasnya yang ngelanggar berlebihan peraturan pondok.
Bunga cewek yang sangat di hormati,
disegani dan disayang sama banyak orang karena keperibabungannya. Ane kagum
banget lah pokoknya sama bunga.
Walau gitu, ane tetep gak bisa
ngungkapin prasaan ku ke bunga sampai lulus sekolah atau keluar dari pondok.
Karena di pondok emang dilarang keras pacaran. Hukumannya juga ngeri banget.
Bukan cuma di gundul dan harus baca surat pernyataan di hadapan semua guru dan
murid, tapi orang tua juga ikut hadir.
Ane cuma bisa memandangnya dari jauh
waktu itu. Dan ketika waktu libur, ane mengambil kesempatan deketin bunga lewat
sms nasehat, ngingetin bunga untuk ibadah, bangunin shalat tahajud, ngemotivasi
bunga dan jadi tempat curhat kalau bunga punya masalah. Ane ngeliat bunga
kayaknya ngerespon positif ane dan ini membuatku semakin optimis buat maju.
Hingga akhirnya ane dan dua teman
ane kena masalah besar dan rumit. Yang membuat ane dan kedua teman ane harus
meraskan dipermalukan di depan guru guru, adik kelas, teman sekalas,kakak kelas
baik itu putra maupun putrid dikumpulkan untuk melihat ane dan kedua temanku
dimarahi dan dipermalukan. Bukan hanya itu, kami bahkan dikeluarkan dari pondok
secara tidak hormat.
Karena hal itu, mau nggak mau ane
harus pindah sekolah. Dan kuputuskan untuk pindah sekolah ke Jawa Timur dekat
dengan keluarga besar ane dari pihak bapak. Gak terlalu jauh sih dari Solo,
Cuma tetep aja harus menempuh jarak yang sedikit lebih jauh dari rumah dan
pondok lama, di mana si “Bunga” tinggal.
Perasaan sedih, jengkel, marah, pilu,
dendam, gak rela bercampur aduk jadi satu mengobrak abrik hati ane waktu itu.
Tapi gimana lagi, itu suatu konsekuensi yang harus ane terima atas keputusan
yang ane buat sendiri. Segala sesuatu itu butuh pengorbanan dan segala sesuatu
itu ada konsekuensi yang mau atau pun tidak mau harus kita terima. Itulah hidup
yang ane rasakan sampai sekarang ini.
Ane gak tau apa tanggapan Bunga
dengan tindakan ane waktu itu. Apakah dia kecewa dan jengkel sama ane atau tetep
berfikir positif terhadap ane. Entahlah, waktu itu ane Cuma mikir gimana
sekolah baru ane dan gimana cara betah di sana. Dan juga, ane ada tugas dari
bapak untuk cari keluarga yang udah lama gak pernah ketemu, bahkan ane aja gak
pernah ketemu sama keluarga yang di sono.
Berjalan lah waktu hingga akhirnya
datang waktu libur. Tidak seperti waktu libur tahun tahun sebelumnya, tahun
init eras sangat berbeda. Karena tahun ini ane gak bisa pulang ke kampong
halaman. Bahkan kemungkinan besar lebaran Iedul Fitri ane jalanin di sini.
Namun, ada hal yang sama seperti tahun tahun sebelumnya. Yaitu sms an sama
teman teman baru atau pun lama. Termasuk sms an sama Bunga.
Awalnya ane ragu dan malu buat sms
dia. Tapi akhirnya ane yakinkan diri ane buat beraniin sms dia. Yeah, sekedar
nanya kabar juga kan gak papa. Lagian gak mungkin banget kalau si Bunga yang
sms duluan ke ane. Karena malu dan menjaga iffah wanita pastinya.
“Assalamu’alaikum Bunga, gimana
kabarnya ?,” sms ku yang sangat singkat itu langsung ku kirim ke bunga. Dan gak
lama kemudian, Bunga bales sms ane. Woaah, itu bikin ane deg deg an buat buka
dan baca isi balesan Bunga itu. Ane takut Bunga malah marah, kecewa dan males
lagi komunikasi sma ane. Tapi, dugaan ane ternyata salah.
“Wa’alaikum salam wr wrb. Alhamdulillah
baik kak, kakak sendiri gimana kabarnya ?, Bunga harap kakak tetep semangat dan
ceria seperti dulu.” Itulah balasan sms Bunga yang menunjukan dia masih peduli
sama ane. Woaah,, hari ane jadi berbunga bunga saat itu dan entah kenapa ane
jadi senyum senyum sendiri baca balesan Bunga itu. Kaya ada manis manisnya
gitu.
“Oh syukurlah kalau Bunga baik baik
aja, kakak Alhamdulillah juga baik. Ya kakak tetep semangat kok dan insyaallah
tetep ceria. Walau beda suasana dan ada yang kurang sedikit, kakak insyaallah
bakal tetep ceria. Gimana hasil ujian smester ke dua kemaren ?, masih tetep
dapet ranking satu kan !?. balasku lagi ke Bunga.
“Syukurlah kalau kakak baik juga,
lega Bunga dengernya. Bunga khawatir kakak jadi gak semangat dan ceria lagi
kaya dulu. Haduh, kalau ditanya pringkat berapa, Bunga jadi malu. Bunga
semester ini turun jadi pringkat ke dua. Hehe . Oh ya,Emang di pondok baru
kakak ada yang kurang sedikit itu apa kak ?.” Balasan Bunga kali ini membuat
ane semakin senyum senyum lagi dan ane menjadi semakin ke pe de an karena bunga
merasa khwatir dengan keadaan ane. Entah itu hanya bentuk kiasan sopan santun
atau memang dia benar benar mengkhawatirkan ane. Entahlah, yang jelas hari yang
gelap, mendung dan terlihat akan hujan pada waktu itu menjadi terasa sangat
cerah dan cuaca yang dingin pun menjadi hangat. Apakah ini yang orang bilang
dengan cinta !? Entahlah.
“Waduh, kok bisa turun gitu ?, emang
gimana ceritanya ?, dan kalah sama siapa ?.” Tanyaku penuh heran, karena Bunga
adalah murid yang tercerdas di kelas dan setauku waktu smester pertama kemarin,
nilai rapornya dengan nilai rapor kawannya yang dapat pringkat ke dua sangat
lah jauh perbandingannya. “Kalau yang kurang sedikit disini tu karena gak ada
Bunga disini, Hehe.” Balasku dengan sedikit menggombal.
“Haduhh, kakak ni malah nge gombal
lo! Orang ditanya serius kok. Tapi, boleh lah gombalannya, hehe. Hmm,, pringkat
Bunga nurun karena gak bisa liat keriangan kakak lagi kemarin. Ceilee, haha.”
Balasan Bunga kali ini semakin wow dan menggelegar bagai petir yang menyambar
dising bolong. Walau mungkin terlihat bercanda, tapi ini suatu hal yang wow
banget bagi seorang pemuda yang merasakan getir getir cinta pada sang pujaan
hatinya.
Dan hari itu pun kami terus bercanda
ria layaknya dulu. Bahkan, ini lebih dekat dan lebih terasa bahwa dia pun
menyimpan rasa yang sama seperti apa yang ane rasakan waktu itu. Ane seneng
karena ane gak ngerasain pahitnya cinta yang tak terbalas.
Lalu, akhirnya tiba dimana dia lulus
dari MTs. Kami tetep saling komunikasi, tapi kami gak saling mengungkapkan
perasaan kami. Walau ane punya rasa ke dia dan ane rasa dia juga memendam rasa
yang sama ke ane, ane belom ingin ngungkapin perasaan cinta an eke dia karena
faktor dia masih di pondok dan pastinya gak boleh pacaran. Ane gak ingin
membuat nama dia jelek di depan guru.
Waktu kami saling sms, dia cerita
kalau akan pindah ke sekolah umum. Karena di punya cita cita ingin jadi ilmuan
dibidang tumbuha. Dan itu gak bisa dia dapet di pondok.
Ketika ane tau itu, ane malah seneng
dan menganggap ini kesempatan buat ane untuk ngungkapin perasaan ane ke dia.
Hingga akhirnya, ane menemukan momen yang tepat untuk nembak dia dan ane pun
berhasil total. Dia benar benar merasakan hal yang sama ane rasakan. Oh
indahnya hidupku. Itulah hal yang waktu itu ane rasain.
Namun, walau ane bilang suka ke dia
dan dia nerima ane dengan tulus tanpa syarat yang bertele tele dan tanpa
melihat semua kekurangan ane. Dia masih susah banget untuk mengatakan cinta ke
ane dan masih belum mau di telpon. Dia bilang orang tua bakal marah kalau dia
nerima telpon dari laki laki. Dan ane bisa ngertiin itu.
Waktu pun terus bergulir, siang
berganti malam dan malam berganti siang. Ane dan dia terus sms an, bercanda,
saling nasehatin, saling ngingetin dalam kebenaran, saling ngingetin ibadah
dll. Kami nggak pernah kelewat batas. Yea, beberapa kali kami tukar foto lewat
FB, dan itu foto yang sekedarnya dan gak keluar batas dari norma norma agama.
Dia aja waktu foto gak pake gaya centil kaya kebanyakan ABG jaman sekarang. Dia
tetep jaga muru’ah dan iffah nya sebagai seorang wanita muslimah.
Ane salut banget sama dia. Dan waktu
ane keterima di Al Azhar, dia sedih banget karena bakal pisah jauh dan sulit
buat komunikasi.
Akhirnya, kami memutuskan untuk
saling tukar kado sebagai kenang kenangan. Oh ya, ketika kami saling
komunikasi, kami bercanda, saling ejek sampai punya julukan masing masing. Aku
memanggilnya monyet karena dia sangat cantik dan dia manggil aku cacing karena
aku sangat rajin. Dan kami pun memutuskan untuk menjadikan kado dari dua hal
tersebut.
Namun
sayangnya, untuk mencari kado dengan pola monyet atau cacing tu sangatlah
sulit. Apalagi yang berkenaan dengan cacing. Dan terpaksa aku hanya bisa
membelikan dia kado yang bermodel monyet.
Waktu
dan tempat penukaran kado pun kami siapkan. Karena kami punya jadwal dan waktu
yang berbeda, pasti sangat sulit menentukan kapan bisa bertemu. Juga, orang tua
kami adalah tipe yang melarang pacaran. Ane males jelasin kalau ane pacaran
islami dan gak neko neko ke orang tua ane. Karena hambatan dan rintangan itu,
ane jadi susah gimana cara buat cari kado dan bungkusinnya.
Setelah
lama berfikir dan merenung, akhirnya ane temukan solusi dan ide. Dia juga
ternyata udah nemuin solusi serta idenya. Kalau ane, ane ngambil kesempatan
waktu bapak ane kerja dan yang bungkusin hadiah nya temen cewek ane. Lalu,
hadiahnya dititipin dirumah kawan ane dimana waktu hari ane dan Bunga akan
ketemuan, ane tinggal ke tempat temen ane itu. Yeah, ini bisa dibilang akal
cerdik.
Waktu
itu ane minjem motor bapak ane waktu beliau lagi kerja dan ane janji waktu akan
pulang kerja ane langsung balikin motornya.
Ane
tancap gas waktu itu mengingat waktu sangatlah sedikit. Sampainya di tempat
pertemuan, ternyata dia belum datang dan memaksa ane menunggu agak sedikit
lama. Perasaan ane waktu itu deg degan dan ane terus mempersiapkan kata kata
yang akan ane ucapin nanti. Ini pertama kalinya ane ketemuan sama dia dan akan
jadi pertama kalinya juga ane sama dia ngobrol secara langsung.
Detik
berganti detik dan akhirnya dia datang bersama kawannya karena gak boleh laki
laki dan perempuan yang bukan mahrom berduaan walau hanya tukar kado. Dan dia
juga belum bisa naik motor.
Kami
pun saling malu malu kucing dan langsung tukar kado. Kawan Bunga terlihat ketawa
karena melihat tingkah kami yang saling malu dan saling salah tingkah.
Pertemuan pun gak berlangsung lama, hanya sekitar 1 menit kurang. Kata kata
yang udah kusiapkan ternyata gak bisa ku ucapkan dan hanya menjadi penyesalan
ketika pertemuan selesai. Yeah, namanya gak pernah ketemu dan baru pertama
kali, jadi saling malu, salah tingkah dan grogi.
Dia
akhirnya pergi bersama temannya. Ane ngasih dia kado yang banyak. Mulai dari
jilbab, baju, kaos couple, buku,
gantungan kunci dan boneka. Waktu baru beberapa jauh aku melajukan motor bapak
ane, ane dah gak sabar buka kado dia yang terlihat kecil dan terasa ringan.
Waktu kubuka, yang kudapat penyesalan karena aku merasa nggk sesuai. Yeah hanya
baju koko dan gantungan kunci kecil boneka monyet.
Tapi,
setelah kupikir. Bukan itu intinya, intinya adalah bagaimana kita menyikapi
hadiah dan makna yang terkandung didalamnya. Dan kita harus tetap bersyukur.
Sebelum
pulang, ane mampir dulu ketempat temen, dan gak nyangka ternyata dia lewat juga
di area gang rumah temen ane. Dia masih digonceng temennya sambil megang semua
hadiah yang ane kasih. Ane gak berani manggil karena malu dan gak enak juga.
Dan akhirnya ane hanya bisa melihat dia dari kejauhan.
Lalu,
kutancapkan gas motor dan segera kembali ke tempat ayah ane bekerja. Ketika
sampai disana ternyata ayah ane udah nunggu cukup lama karena mengejar waktu
shalat Jum’at juga. Kebetulan itu hari Jum’at. Yang ane lupa tanggal berapa
nya.
Hari
itu pun berlalu dengan sejuta rasa. Rasa lucu, malu, senang, bahagia, sedikit
kecewa, kesal karena gak bisa berucap apa apa dan berkesan serta membuatku
mengenangnya terus tanpa bisa melupakannya hingga hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar