fashion pria

Selasa, 11 Oktober 2016

MENGIMANI QADA’ DAN QADAR



          Pembahsan tentang Qada’ dan qadar ini sangat sering dibicarakan dan menjadi suatu hal yang sering membuat umat islam bingung, termasuk saya sendiri. Karena ini mencakup pembahasan takdir manusia ula, baik itu takdir yang bagus atau pun takdir yang buruk. Dalam agama lain ada yang tidak mempercayai takdir, namun kita sebagai umat islam harus mempercayai takdir yang pasti qada’ dan qadar itu.
Sekarang saya akan mencoba menjelaskan atau mentafsirkan makna iman kepada qada’ dan qadar sepemahaman saya yang masih dangkal ini. Dan seperti biasa saya mengambil rujukan dari muqorror Al Azhar kitab Tauhid tingkat 2 Ushuluddin.
قال اللقاني :

وواجب اماننا باالقدر وبالقضاكما أتي في الخر
Setiap kata Al Laqqany selalu diawali dengan penjelasan Nahwu Shorof dahulu oleh Al Bajury,  tapi saya disini tidak ingin menjelaskan tentang nahwu shorof.
            (وواجب اماننا باالقدر  ) Al Laqqany mengatakan bahwa kita harus mempercayai atau mengimani Qadar atau takdir. Dan harus mempercayai bahwa Allah Azza wa jalla telah menetapkan takdir umat manusia dan seluruh alam jauh sebelum manusia atau alam itu terbentuk.
            ( وخلق كلّ شي ءفقدّره تقديرا ) Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan ketetapan-Nya. Langit, bumi, bintang dengan segala isi-isinya sudah ada takdir-takdir yang menunggu mereka. Maka dari itu kita harus mempercayai takdir dan salah satu hikmah dibalik iman terhadap takdir adalah agar kita bersabar ketika kita mendapatkan sebuah musibah atau bersyukur dan tidak sombong ketika mendapatkan anugerah juga tidak iri dengki ketika melihat saudara kita mendapatkan karunia yang lebih dibandingkan kita.
مااصاب من مّصيبة في الارض ولافي انفسكم الافي كتب مّن قبل ان نّبراها

·         MEMBELA DIRI DENGAN TAKDIR
Adapun hukum membela diri dengan takdir itu sendiri dibolehkan jika sudah terjadi. Adapun jika membela diri sebelum terjadinya takdir itu sendiri maka itu tidak diperbolehkan.
Cntoh pembelaan diri yang diperbolehkan menggunakan alas an takdir adalah ketika Nabi Musa alaihissalam mengeritik atau menyalahkan nabi Adam ‘Alaihissalam karena telah menyebabkan umat manusia terusir dari Syurga karena memakan buah pohon yang dilarang oleh AllahAzza wa jalla, dan Nabi Adam membela diri dengan mengatakan yang kurang lebih begini “ Wahai Musa, engkau adalah seorang yang mendapat julukan Kalamullah, dan Allah langsung memberikan Kitab Taurat dengan Tangan-Nya. Apakah engkau menyudutkan saya dengan sesuatu yang sudah ada ketetapannya 40 tahun sebelum Allah menciptakanku?” Nabi Muhammad SAW bersabda : “ maka berhujjah lah Adam terhadap Musa” atau mengalahkannya dengan hujjah. Pembelaan tersebut termasuk dibolehkan dalam islam, karena sudah terjadi. Atau juga ketika seseorang melakukan kesalahan yang tidak ia sengaja dan dia berkata bahwa Allah telah menakdirkan hal itu.
            Adapun contoh pembelaan diri menggunakan takdir yang dilarang adalah ketika kejadian itu belum terjadi atau kejadian itu disengaja . seperti seseorang yang ingin berzina dan ia berkata bahwa Allah sudah menakdirkan saya untuk berzina. Atau dia sengaja melakukan kesalahan atau berzina lalu ia mengatakan bahwa Allah sudah menakdirkan hal itu. Bentuk pembelaan ini dilarang dalam islam. Allahu’alam
 ( وبالقضاكما أتي في الخر ) Al Laqqany juga mengharuskan kita untuk mengimani Qadha’ atau ketetapan, kekuasaan Allah yang telah terjadi seperti yang telah saya jelaskan diatas. Allah Ta’ala berfirman :
اذجاءاجلهم فلا يستأ خرون ساعة وّلايستقدمون
Kita sebagai makhluq yang telah Allah ciptakan tak mampu menyegerakan kematian ataupun menundanya. Jadi, jika kematian ataupun musibah datang menghampiri kita kita harus mengimaninya bahwa Allah sudah menetapkan takdir itu jauh sebelum kita diciptakan dimuka bumi ini. Rasulullah SAW bersabda
الايمان ان تؤ من بالله وملا ئكته وكتبه ورسله واليومالاخروتؤمن بالقدرهِ وشرّه. رواه البخاري ومسلم
Artinya:” Imam adalah (hendaknya) Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rosul-rosul-Nya, hari akhir, dan beriman pula kepada qadar(takdir), yang baik maupun yang buruk”.(HR Bukhari Muslim)
Allahu’alam bisshowab…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar