fashion pria

Selasa, 11 Oktober 2016

Ingin Tau Ribetnya Pengurusan Visa di Mesir? Ini Contohnya


Untuk tahun ajaran 2016-2017, pengurusan visa di Mesir dialihkan dari pihak Jawazat yang bertempat di samping Madinatul Buuts ke Konsuler. Menurut kebanyakan orang atau masisir, cara ini jauh lebih mudah dan efisien. Namun bagi aku pribadi, sistem ini justru malah merugikan. Karena apa, sistem baru ini mengharuskan pengurusan tashdiq yang ribet. Kita dituntut untuk pergi bolak-balik antara al-Azhar di Darosah ke al-Azhar yang di Hay Sadis.
Saat tahu pertama kali, aku sangat kaget. Biasanya tashdiq sehari selesai di satu tempat. Namun kala itu aku harus menempuh waktu satu minggu hanya untuk mengurus tashdiq. Pihak sun meminta passport dan mengisikan tashdiq dengan ukuran kertas dua kali lebih besar dari yang biasanya. Lalu setelah semua selesai, mereka memintaku untuk meminta 3 tandatangan dan satu setempel di Tansiq yang bertempat di Sadis. Repot banget, kan?
Setelah sampai di sana, aku harus menyusuri dan bertanya ke banyak orang untuk bisa menemukan satu tempat saja. Sebab, orang Mesir banyak sekali yang jika kita Tanya suatu alamat, mereka akan menjawab “wallah ma ‘arofusy”, padahal seharusnya mereka tahu, itu hanya karena mereka gak mau repot menunjukkan arah atau mereka nggak peduli. Nyebelin nggak, tuh?
Setelah muter ke sana dan ke sini. Akhirnya aku berhasil mendapatkan semua tandatangan beserta setempel yang disyaratkan. Ingin ku selesaikan pengurusan saat itu juga. Namun sayangnya aku sudah terlalu lelah; hari pun sudah terlalu panas. Hingga membuatku memutuskan ‘tuk kembali ke kediamanku di Hay Asyir.
Karena sibuk kerja, aku bisa menyelesaikan pengurusan tashdiq satu minggu setelah pengurusan awal tadi. Namun sekali lagi, aku terlalu sibuk hingga pengurusan visa tersendat hingga beberapa lama.
Saat hendak mengurus visa di Konsuler, naasnya aku mendapat kabar bahwa ada tashdiq baru dan semua masisr diharuskan mengunakan itu. Karena masih sedikit ragu, kuputuskan untuk melangkahkan kaki menuju Konsuler. Ku Tanya pihak yang bertanggung jawab, dan jawaban mereka adalah, “Ya, kamu harus ganti tashdiq baru.” Dalam hati aku berbisik, “mampus deh gue.”
Setelah dua hari, aku memutuskan untuk membuat tashdiq baru bersama teman kamar. Berharap berangkat pagi jam 7.30 agar tak mendapat antrian yang panjang dan menjengkelkan. Namun sayang seribu sayang, malamnya aku mendapat pesan darurat lewat Whatsapp dari customer yang membeli tiket padaku dulu pada jam 2.30 pagi. Dia bercerita bawha tanggal tiketnya berubah, dan itu tak ada pemberitahuan dariku. Lalu dia menuntut agar tiket diganti ke penerbangan esok hari.
Aku langsung kaget, bingung dan panik. Sebab sebelumnya pun sudah ada kejadian demikian, dan terpaksa dia harus ganti tiket yang baru dengan harga yang jauh lebih mahal. Juga aku harus membantu meringankan biaya dia, karena memang itu kesalahanku juga tidak teliti dan detail. Hal ini membuatku benar-benar cemas.
Segera aku telepon pihak kantor tiket tempat aku bekerja, ku Tanya permasalahannya dan mereka meneliti penyebab kesalahan yang terjadi. Hingga beberapa saat, akhirnya kantor memberi penjelasan bahwa itu bukan kesalahan mereka. Tapi kesalahan dari pihak maskapainya langsung. Mereka membatalkan penerbangan di hari itu ke hari berikutnya.
Singkat cerita, masalah selesai tanpa ada konflik yang merepotkan. Aku pun langsung tenang, namun malam itu tidurku terganggu hingga Shubuh datang. Sebab, hari sebelumnya ada acara kajian Ushul Fiqh hingga pukul 11 malam aku tidak tidur.
Karena rencana berangkat ke al-Azhar pukul 7.30, ku putuskan untuk tidur kembali setelah salat Shubuh. Tapi sayangnya aku bangun telat satu jam dari yang diharapkan. Sehingga berangkat pun jadi telat, dan ketika sampai di kampus, ku lihat banyak sekali orang yang mengantri di depan suun. Apes banget, kan?
Tapi itu baru permulaan dari sialnya nasibku di hari itu.
Aku pun langsung mengantri di tempat yang benar. Sebelumnya mengantri di tempat yang salah.
Di bawah teriknya matahari, aku terus menunggu hingga giliranku tiba. Setelah satu jam, akhirnya aku sampai di depan suun. Ku tanyakanlah pihak yang bertanggungjawab tentang tashdiq, dan mereka menjawab harus ganti. Repotnya, saat ku minta formulir pembayaran tashdiq, petugasnya sangat sibuk hingga terpaksa aku menunggu sekitar 20 menit. Itu hanya untuk mendapatkan formulir. Padahal dia hanya perlu menulis nominal yang harus ku bayar di formulir itu, sisanya aku sendiri yang melengkapi. Nyebelin banget, ya?
Namun saat hendak membayar, di sana ada antrian yang panjang lagi. Dalam hati aku bergumam, “Ya ampun.... Sial banget sih gue”
Singkat cerita pembayaran selesai, setelah itu aku kembali ke tempat awal untuk menyerahkan bukti pembayaran; dan berkas-berkas yang diperlukan untuk membuat tashdiq. Aku pun kembali mengantri di bawah teriknya matahari yang sangat menyengat. Karena tidak kuat, aku keluar dari antrian dan mencari tempat berteduh yang jaraknya hanya sekitar 1 meter dari tempat antri.
Malangnya, tiba-tiba datang orang Afrika merebut tempat antrianku yang padahal sudah jelas aku terlihat sedang mengantri.
Tapi sayangnya, aku tak bisa berkutik apa-apa. Karena si Afrika ini bertubuh besar dan kekar. Jadi, aku diam saja dan malah mengantri di belakangnya. Nyedihin banget, ya?
Setelah beberapa lama mengantri, tibalah giliranku. Sialnya lagi, pihak suun mengatakan bahwa pengurusan tashdiq-nya ada di jendela sebelah.
Aku semakin kesal dan terus mengeluh. Sebab, di jendela sebelah pun antrian panjang juga. Tapi tetap saja semua harus ku patuhi dan ku jalani. Karena inilah suun al-Azhar.
Oh ya, pengurusan itu belum selesai dan masih berlanjut. Ini baru mengurus salah satu syarat perpanjangan visa tinggal di Mesir. Belum syarat yang lain, dan ini baru setengah kepengurusan tashdiq. Aku masih harus ngurus lagi dua hari berikutnya. Sangat melelahkan, ya?

To be continue....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar