Untuk tahun ajaran 2016-2017, pengurusan visa di Mesir dialihkan
dari pihak Jawazat yang bertempat di samping Madinatul Buuts ke Konsuler.
Menurut kebanyakan orang atau masisir, cara ini jauh lebih mudah dan efisien.
Namun bagi aku pribadi, sistem ini justru malah merugikan. Karena apa, sistem
baru ini mengharuskan pengurusan tashdiq yang ribet. Kita dituntut untuk
pergi bolak-balik antara al-Azhar di Darosah ke al-Azhar yang di Hay Sadis.
Saat tahu pertama kali, aku sangat
kaget. Biasanya tashdiq sehari selesai di satu tempat. Namun kala
itu aku harus menempuh waktu satu minggu hanya untuk mengurus tashdiq.
Pihak sun meminta passport dan mengisikan tashdiq dengan ukuran kertas
dua kali lebih besar dari yang biasanya. Lalu setelah semua selesai, mereka
memintaku untuk meminta 3 tandatangan dan satu setempel di Tansiq yang
bertempat di Sadis. Repot banget, kan?
Setelah sampai di sana, aku harus menyusuri dan bertanya ke banyak
orang untuk bisa menemukan satu tempat saja. Sebab, orang Mesir banyak sekali
yang jika kita Tanya suatu alamat, mereka akan menjawab “wallah ma ‘arofusy”,
padahal seharusnya mereka tahu, itu hanya karena mereka gak mau repot
menunjukkan arah atau mereka nggak peduli. Nyebelin nggak, tuh?
Setelah muter ke sana dan ke sini.
Akhirnya aku berhasil mendapatkan semua tandatangan beserta setempel yang
disyaratkan. Ingin ku selesaikan pengurusan saat itu juga. Namun sayangnya aku
sudah terlalu lelah; hari pun sudah terlalu panas. Hingga membuatku memutuskan
‘tuk kembali ke kediamanku di Hay Asyir.
Karena sibuk kerja, aku bisa menyelesaikan pengurusan tashdiq
satu minggu setelah pengurusan awal tadi. Namun sekali lagi, aku terlalu sibuk
hingga pengurusan visa tersendat hingga beberapa lama.
Saat hendak mengurus visa di Konsuler, naasnya aku mendapat kabar
bahwa ada tashdiq baru dan semua masisr diharuskan mengunakan itu.
Karena masih sedikit ragu, kuputuskan untuk melangkahkan kaki menuju Konsuler.
Ku Tanya pihak yang bertanggung jawab, dan jawaban mereka adalah, “Ya, kamu
harus ganti tashdiq baru.” Dalam hati aku berbisik, “mampus
deh gue.”
Setelah dua hari, aku memutuskan untuk membuat
tashdiq baru bersama teman kamar. Berharap berangkat pagi jam 7.30 agar
tak mendapat antrian yang panjang dan menjengkelkan. Namun sayang seribu
sayang, malamnya aku mendapat pesan darurat lewat Whatsapp dari customer
yang membeli tiket padaku dulu pada jam 2.30 pagi. Dia bercerita bawha tanggal
tiketnya berubah, dan itu tak ada pemberitahuan dariku. Lalu dia menuntut agar
tiket diganti ke penerbangan esok hari.
Aku langsung kaget, bingung dan panik. Sebab
sebelumnya pun sudah ada kejadian demikian, dan terpaksa dia harus ganti tiket
yang baru dengan harga yang jauh lebih mahal. Juga aku harus membantu
meringankan biaya dia, karena memang itu kesalahanku juga tidak teliti dan detail. Hal ini membuatku benar-benar cemas.
Segera aku telepon pihak kantor tiket tempat aku bekerja, ku Tanya
permasalahannya dan mereka meneliti penyebab kesalahan yang terjadi. Hingga beberapa saat, akhirnya kantor memberi
penjelasan bahwa itu bukan kesalahan mereka. Tapi kesalahan dari pihak
maskapainya langsung. Mereka membatalkan penerbangan di hari itu ke hari
berikutnya.
Singkat cerita, masalah selesai tanpa ada
konflik yang merepotkan. Aku pun langsung tenang, namun malam itu tidurku
terganggu hingga Shubuh datang. Sebab, hari sebelumnya ada acara kajian Ushul
Fiqh hingga pukul 11 malam aku tidak tidur.
Karena rencana berangkat ke al-Azhar pukul
7.30, ku putuskan untuk tidur kembali setelah salat Shubuh. Tapi sayangnya aku
bangun telat satu jam dari yang diharapkan. Sehingga berangkat pun jadi telat,
dan ketika sampai di kampus, ku lihat banyak sekali orang yang mengantri di
depan suun. Apes banget, kan?
Tapi itu baru permulaan dari sialnya nasibku
di hari itu.
Aku pun langsung mengantri di tempat yang
benar. Sebelumnya mengantri di tempat yang salah.
Di bawah teriknya matahari, aku terus menunggu
hingga giliranku tiba. Setelah satu jam, akhirnya aku sampai di depan suun.
Ku tanyakanlah pihak yang bertanggungjawab tentang tashdiq, dan mereka
menjawab harus ganti. Repotnya, saat ku minta formulir pembayaran tashdiq,
petugasnya sangat sibuk hingga terpaksa aku menunggu sekitar 20 menit. Itu
hanya untuk mendapatkan formulir. Padahal dia hanya perlu menulis nominal yang
harus ku bayar di formulir itu, sisanya aku sendiri yang melengkapi. Nyebelin
banget, ya?
Namun saat hendak membayar, di sana ada
antrian yang panjang lagi. Dalam hati aku bergumam, “Ya ampun.... Sial banget
sih gue”
Singkat cerita pembayaran selesai, setelah itu
aku kembali ke tempat awal untuk menyerahkan bukti pembayaran; dan
berkas-berkas yang diperlukan untuk membuat tashdiq. Aku pun kembali
mengantri di bawah teriknya matahari yang sangat menyengat. Karena tidak kuat,
aku keluar dari antrian dan mencari tempat berteduh yang jaraknya hanya sekitar
1 meter dari tempat antri.
Malangnya, tiba-tiba datang orang Afrika merebut
tempat antrianku yang padahal sudah jelas aku terlihat sedang mengantri.
Tapi sayangnya, aku tak bisa berkutik apa-apa.
Karena si Afrika ini bertubuh besar dan kekar. Jadi, aku diam saja dan malah
mengantri di belakangnya. Nyedihin banget, ya?
Setelah beberapa lama mengantri, tibalah
giliranku. Sialnya lagi, pihak suun mengatakan bahwa pengurusan tashdiq-nya
ada di jendela sebelah.
Aku semakin kesal dan terus mengeluh. Sebab,
di jendela sebelah pun antrian panjang juga. Tapi tetap saja semua harus ku patuhi
dan ku jalani. Karena inilah suun al-Azhar.
Oh ya, pengurusan itu belum selesai dan masih
berlanjut. Ini baru mengurus salah satu syarat perpanjangan visa tinggal di
Mesir. Belum syarat yang lain, dan ini baru setengah kepengurusan tashdiq.
Aku masih harus ngurus lagi dua hari berikutnya. Sangat melelahkan, ya?
To be continue....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar